Kamis, 24 Juni 2010

Banyak hal dan aku bercerita

Sampai pada titik ini..titik dmana malam mulai memudar dan cahaya menari riang..berpesta ritual pengusiran gelap..banyak hal terjadi hingga sampai pada titik ini..ketidakpedulian yang bermetamorfosis menjadi keangkuhan..keikhlasan yg terselimuti hipokritisme..dan slogan2 yg menyeruak untuk menutupi ketidakmampuan..lalu jatuh pada hal yg dsbt "kebimbangan"..akupun tdk lbh baik dr hal2 yg diatas...kadang aku merasa geli melihat status yg slalu terupdate..mujahid2 yg mukanya terpampang di facebook bukan dtembok2 terminal atau mall yg dburu...lalu fikiranku melayang jauh apakah osama,basayev,imam samudra,ali imron,atau nurdin m top punya account d fb atau fs pada jamannya..hiks..toh status yg terupdate cukup menandakan mujahid fb tdk takut pd kokangan ak 47...ada yg mengatakan tuhan telah mati...kt lah yg membunuhnya..menciptkan kmbli tuhan2 kecil membunuhnya kembali dan kembali menghidupkannya..kasihan tuhan..dia tdk benar2 dbunuh..karena pembunuhnya menghidupkan kmbli..ada juga yg mempagari fb nya dg sgl peraturan...tdk boleh bgn dan bgt..dan menciptakan dunia sndri dan menjadikan dirinya tuhan dalam dunia kecilnya..lucu2 memang..temanku blng cukupkanlah hidupmu dg jujur pd dirimu..sblm kau mengatakan dirimu jujur pda orang lain..udah ah unek2nya mau mandi dan krumah paman...

Selasa, 22 Juni 2010

Ketoprak dan Kerinduan

Hari ini jadwal saya libur, tepat hari rabu, biasa kerja shift tidak mengikuti hari libur orang kebanyakan yang di tetapkan hari sabtu dan minggu, dalam setiap minggu saya bisa berbeda hari libur dengan minggu sebelumnya, tergantung kapasitas.

Kata rekan2 kerja saya "kerja disini, anda tidak akan menemukan tanggal merah semuanya hitam"

Tidak berbeda dengan libur2 sebelumnya, hanya ada dua tempat yang biasa saya kunjungi, berada di kostan bermain dengan rima2 homicide, atau sekedar bermain game, atau pergi ke pesing, sebuah daerah di jakarta barat, di JL raya daan mogot, disana ada sungai dengan air hitam legam hasil percampuran ribuan atau bahkan jutaan partikel aneh yang untuk mengejanya saja saya kesulitan, di sepanjang sungai ada pasar yang tidak pernah berhenti berdenyut, pasar tradisional yang tersisah dari gerusan mall-mall besar yang bisu...yah bisu karena kita tinggal mengambil apa yang kita mau, tanpa tawar-menawar, tanpa sedingkit cengkrama antara penjual dan pedagang, tanpa perkenalan,tanpa ikatan emosional, dan tentu tanpa rasa dan kesadaran, dipasar ini aku sering bertrasaksi, kenal beberapa pedagang yang biasa aku beli barang mereka, ah pasar tradisional memang asyik, karena disana kita meninggalkan jejak2 kata dan emosi..tidak bisu

Di belakang pasar tepatnya di samping rel kereta api jurusan kota-tangerang, di sekitar rumah2 kumuh (jika kita menggunakan standar house bukan Home), tapi tidak bagiku inilah hunian, tempat saya melepas kepenatan, dari pada kost saya yang berasa rumah bukan hunian, disana ada teman2 sekampung saya, orang bilang disini adalah cirebon di tengah jakarta, saya bisa menggunakan bahasa ibu di sini, sebagaian besar sahabat2 saya berprofesi sebagai penjual ketoprak atau sekoteng, mereka berangkat berjualan di sore hari dan pulang di tengah malam, kadang iri terlintas di fikiran, begitu indah kehidupan mereka, mereka begitu bebas, mereka tidak terpatok tanggal, deadline, dan bla..bla...seperti pekerja kantoran, mereka tidak perlu mengisi form cuti untuk sekedar berlibur atau ada keperluan, mereka tidak perlu menunggu libur long weekend untuk pulang ke cirebon, mereka juga tidak perlu surat sakit ketika sakit, mereka mengontrol waktu mereka sendiri, pekerja kantoran segalanya anda terikat dengan aturan2....para pedagang itu memiliki insting alami manusia dalam bertahan hidup, insting para pemburu seperti nenek moyangnya dahulu ketika masih hidup di hutan belantara, insting yang hilang bagi para pekerja kantoran, mereka para pedagang..ketika mendapatkan hasil ketika berdagang secara langsung, hari itu juga mereka akan bertahan, bukan akumulasi gaji, bukan konsep sallary yang aneh ala kapitalisme yang menunggu 30 hari untuk menikmatinya, membayar gaji ketika keringat sudah sangat kering, atau bahkan sudah tidak berbekas karena habis oleh akumulasi kelelahan, jujur saya sekali lagi iri pada mereka..tidaklah salah jika kanjeng Rasul pernah bersabda

"profesi yang paling baik, adalah pedagang"

"profesi yang paling baik, adalah pedagang"

Dan setiap aku disini, di tempat ini maka aku berdoa, semoga Allah memberi kesempatan bagi saya untuk berada dalam profesi tersebut, profesi dimana saya bisa memerdekakan diri dari belenggu aturan2 aneh, berada dalam dekap kebebasan waktu, menikmati hari dengan tiupan angin yang berakata

"mari kita pulang, hari ini kau sudah lelah".

 Dan bercerita pada dinding-dinding kamar

"dinding kau bersamaku sekarang"

Berlarian dengan anak-anak kecil di sebuah kampung, di tengah pematang sawah dan berkata

"aku seusia kalian, karena aku bebas"

Dan berkata pada siang di hari jum'at

"Aku merindukanmu, karena jadwal tidak mengejarku lagi"

Berkata pada 1/3 malam

"kau sejuk, aku merasakan Engkau lebih dekat, semakin dekat"

berkata pada subuh dan matahari

" hemmm....dekaplah aku lebih mesrah"

aku merindukan itu......

Senin, 21 Juni 2010

paradigma dan cognito

Satu pagi di lima tahun yang lalu, gasibu tempat di tengah jantung kota bandung, lapangan di depan pusat pemerintahan propinsi jawa barat, menghadap tepat ke arah monumen perjuangan, dan jika di tarik garis lurus maka akan terbentur sebuah gunung yang menjadi legenda rakyat jawa barat, gunung tangkuban perahu..

Seperti biasa dingin adalah jiwa kota ini, namun dia semakin menipis ku rasa sejak 6 tahun lalu aku menginjakan tempat ini, untuk menetap lama, kabut sekarang sudah menjadi malu, meringkuk kisut di terjang polusi.

Ada kegilaan di pagi itu, kegilaan dua orang manusia, saya dan seorang sahabat, usianya tidak terpaut jauh dariku, dia lebih muda, namun wawasan berfikirnya telah melalang jauh dari raganya, raganya tidak mampu memenjarakan apa yang ada di otaknya, menerobos batas usia, menghantam kemapanan, merancuhkan logika2 konvensional, dan dogma2 yang telah terpasung selama ini atas nama intitusi, kami berjalan bersama pagi itu, sejenak melepas kantuk, dan melihat konsumerisme kota bandung di pasar minggu sepanjang gasibu sampai monumen perjuangan, entah berapa ratus juta uang yang berputar dari satu tempat ini, segala hal ada, dari baju bekas export sampai  barang2 bajakan yang bagi sebagian orang adalah bentuk perlawanan dari copyright yang di usung oleh kapitalisme dalam sebuah industri hak, bentuk kepemilikan pribadi yang di agungkan dan dilegalkan, dan sebagian yang lain berkoar2 bahwa pembajakan adalah hal haram, padahal negara ini saja lagu kebangsaaannya adalah hasil dari pembajakan, setidaknya itu yang dikatakan oleh remy silado seorang budayawan dan sastrawan Indonesia. kami berjalan belum cukup jauh, tiba2 dia menoleh ke arah saya

"hayang nguji mental teu?mau nguji mental gak?" tanyanya

"hayu lah, kumaha mane wee, nu peunting mah asoooy, ayo lah, gimana lo aja, yang penting asyik" jawabku dengan senyuman.

Seketika dia genggam tangan saya, dan kami pun berjalan saling bergenggaman tangan, sebagian orang yang melihat kami, memandang dengan tatapan yang aneh, sebagian yang lain berbisik-bisik entah apa yang mereka katakan, tapi yang pasti mereke mengira saya dan sahabat saya adalah pasangan homo, sebuah paradigma yang sudah melembaga dan mensimbolisasi diri dalam bentuk genggaman tangan, tapi entah kenapa ketika seorang perempuan saling bergandeng tangan kita menggapnya wajar, dua orang teman baik setidaknya itu yang ada di fikiran orang atau bahkan saya. selama perjalanan kami, kami saling pandang dan melempar senyum, dan pada akhir perjalanan kami tertawa lepas....kami seperti bebas, kami seperti telah berhasil memainkan paradigma orang, kami telah begitu banyak menipu orang selama perjalanan itu, kami mengontrol paradigma itu....

Yah kadang ketika pertama kali kita melihat sesuatu dan kita pun mulai mencoba menghakimi hal tersebut, mencoba untuk melakukan penghakiman2 dari simbol2, gerak, mimik, yang kita dapat dari informasi yang kita peroleh sebelumnya, dan kita merasa cukup dengan bekal itu untuk melakukan penghakiman, sekumpulan paradigma itu tidak mentolerir kita untuk mengenal objek lebih jauh, padahal sepenting apapun pandangan pertama itu tidak menentukan, setidaknya itu yang dikatakan magda peres kepada minke dalam novel bumi manusia karya alm. pram, dan itupun yang saya rasakan beberapa kali kecele dengan penghakiman pertama kali yang di tuntun oleh paradigma umum, ah orang seperti itu biasanya maling...ternyata dia lebih baik dari saya, jangan percaya sama orang yang berjanggut, dia pasti teroris...ternyata dia lebih shaleh dari pada saya.....paradigma2 yang ada disekitar kita tidak selamanya benar, Maka kenali terlebih dahulu sebelum kita menghakimi, pengenalan adalah sebuah proses yang berkelanjutan, terus menerus, karena diri bisa memungkinkan untuk berubah dalam satu kondisi tertentu, pendeknya manusia selalu berproses dan tumbuh beradasarkan pengalaman-pengalaman yang dia dapatkan..dia tidak berhenti kecuali pada satu titik kematian...


Pengenalan diri bagi saya adalah hal yang penting, untuk bisa melangkah jauh mengenal variable luar dari saya, orang di sekitar saya, tembok, kaleng di luar kostan saya, sapu yang tergeletak di sudut, monitor, listrik dan pada sampai ke Dzat yang hakiki, seperti sabda kanjeng Rasul ""Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu" kenali dirimu, maka kau akan mengenali Tuhanmu, tentu bukan seperti cogito ergo cum-nya descretes yang menelanjangi manusia hanya dari sisi intelektual saja, tapi pengenalan diri secara menyeluruh, baik intelektual, naluri, raga, jiwa, hal2 di luar diri samapai ke eksistensi Hakiki...hehe mulai ngaco dari paradigma ke pengenalan diri..senagaja saya sambung2in...

Dan akhirnya kami pun berhenti di sebuah masjid universitas padjadjaran, sengaja sedikit beristirahat, setelah puas memainkan paradigma orang2 yang ada di gasibu...kembali melihat wa kasmin dengan sapu lidinya coba mengusir daun2 yang gugur..usianya saya rasa dia sudah mengenali dirinya...terlihat dia bisa merawat masjid dan tanaman yang mungkin sudah menyatu dengan dirinya..diri sebagai diri..secara utuh....



Minggu, 13 Juni 2010

piala dunia....ah nanti saja

Di kantor sedang ramai,rekan-rekan kerja mengenakan jersey team sepak bola,yah inilah kegiatan fun factor yang biasa kantor saya lakukan untuk hari2 spesial,dan hari ini adalah hari opening world cup 2010,afrika selatan...

Seminggu sebelumnya teman2 sudah pada sibuk mencari tv tunner yang bisa digunakan di plasma..biar bisa nonton bareng katanya,maklum kantor kami ramai 24 jam ,untuk yang kebagian shift sore,maka alternatifnya nonton di kantor,sbagian yang lain sudah sibuk sebulan yang lalu bermain Pro evolution soccer 2010 di lcd komputer,karena ini juga saya jadi kecanduan main PES,padahal dulu waktu sekolah saya mencoba meghindar dari main PS,alasannya klise,gak mau ke ganggu sekolah..itu alasan diplomatis, sebenarnya alasan terbesar uang saku saya tidak cukup untuk ke rental PS hahah...tapi akhirnya memang frekuensi bolos saya lebih kecil daripada yang main PS, cukup 1 hari dalam seminggu bolos dengan alasan terlambat...dimana saya bolos bukan di PS tentunya, saya lebih suka bolos sendiri di kebun kakek, disana ada cabang pohon yang enak buat tiduran selebihnya saya expolre kebun,sok jadi arkeolog..kalau lapar buah mangga bisa jadi alternatif makan,atau singkong juga enak dibakar....halah ngelantur

Kembali ke pergelaran piala dunia event 4 tahunan ini sudah tidak terlalu menarik bagi saya,walau saya football addict,tapi saya bukan orang yang ambisius, semua moment yang ingin saya lihat dalam sepak bola sudah saya lihat,italia sudah menjadi juara dunia, saya sudah meelihatnya,inter milan juara LC juga sudah melihatnya,istilahnya event2 itu sudah bisa saya ceritakan ke anak cucu nanti,kans italia juga tipis dengan kekuatan yang saat ini, kekuatan gaek memang menguntungkan dalam hal pengalaman dan cara mengelolah tekanan di pertandingan seketat ini, namun bukan hal itu saja modal menjadi juara, dalam kompetisi seketat piala dunia, stamina memegang pernanan penting,kalaupun italia kmbali mnjadi juara..bagi saya adalah sebagai hadiah untuk menambah cerita saja ke anak cucu...

Lalu hal apa event yang belum saya lihat...yang paling ingin saya lihat adalah event dimana kapitalisme runtuh menjadi puing2 yang berserakan dan berdirinya one state khilafah/imamiah...sehingga tidak ada lagi yang bayi2 yang terbunuh tanpa pembelaan di gazza,tidak ada lagi kebingungan umat islam untuk mengadu terkait pembantain, tidak ada lagi exploitasi sumber daya alam oleh segilintir orang, tidak ada lagi perbudakaan ala outsourching, tidak ada lagi situs2 ala faithfreedom, tidak ada lagi sekat tembok pembatas, tidak ada lagi tki2 yang dianiyaya dan ribet ngurus vissa,semoga Allah menyegerakanya..amien
 

Surga Bumi Copyright © 2009 Template is Designed by Islamic Wallpers